Mobil tanpa awak alias self-driving car sudah
menjadi bahasan lumrah. Vendor kawakan semacam BMW, Volvo, Mercedes Benz, dan
Tesla Motors, telah memperkenalkan mobil pintar mereka masing-masing.
Tak hanya dari industri otomotif, pabrikan
teknologi semacam Google dan Baidu pun ikut serta membuat mobil tak
berpengemudi . tetapi dalam memasarkannya masih memilik kendala untuk memasarkan produknya secara komersil
karena Seperti yang sudah-sudah, inovasi
kerap bertentangan dengan aturan yang berlaku di tiap negara. Untuk itu, perlu
ada payung hukum baru yang mengakomodir inovasi tersebut.Atas dasar ini, lima
perusahaan berkoalisi mendorong pemerintah Amerika Serikat agar segera
mengeluarkan izin jalan bagi self-driving car, agar
menjadi legal. Kelimanya adalah perusahaan induk Google, Alphabet, layanan ride-sharing Uber
dan Lyft, serta vendor otomotif Ford dan Volvo.
data 2014 yang
menunjukkan ada lebih dari 32.000 kecelakaan fatal di jalanan AS selama
setahun. Selain itu, ada 6,1 juta tabrakan mobil yang menyebabkan 2,3 juta
korban luka-luka.
Menurut data, 94 persen dari total kecelakaan tersebut disebabkan kelalaian manusia. Dalam hal ini, self-driving car digadang-gadang sebagai solusi tepat mereduksi kelalaian tersebut.Administrator NHTSA (National Highway Traffic Safety Administration) saat ini Mark Rosekind mengatakan, pembuat kebijakan tak boleh rancu dalam perumusan regulasi self-driving car.Februari lalu, NHTSA(National Highway Traffic Safety Administration) menyebut sistem artificial intelligence yang berada di balik kemudi self-driving car milik Google dipertimbangkan sebagai sopir legal. Hal ini mengindikasikan restu NHTSA untuk mobil pintar.
Menurut data, 94 persen dari total kecelakaan tersebut disebabkan kelalaian manusia. Dalam hal ini, self-driving car digadang-gadang sebagai solusi tepat mereduksi kelalaian tersebut.Administrator NHTSA (National Highway Traffic Safety Administration) saat ini Mark Rosekind mengatakan, pembuat kebijakan tak boleh rancu dalam perumusan regulasi self-driving car.Februari lalu, NHTSA(National Highway Traffic Safety Administration) menyebut sistem artificial intelligence yang berada di balik kemudi self-driving car milik Google dipertimbangkan sebagai sopir legal. Hal ini mengindikasikan restu NHTSA untuk mobil pintar.
Beberapa Hari lalu Uber sudah tak sabar ingin melepas
XC90, mobil tanpa sopir yang dibesut bersama Volvo, ke jalanan. Rencananya,
mobil tersebut sudah narik penumpang mulai akhir bulan ini juga di Pittsburgh,
AS.
Pelanggan Uber di
kota itu bakal bisa memanggil mobil tanpa sopir lewat aplikasi ponsel Uber
seperti biasa. Hanya saja, untuk sementara waktu, sang mobil tanpa sopir masih
akan diawasi oleh sopir sungguhan yang duduk di balik kemudi.
Volvo, Sabtu (20/8/2016), dijadwalkan mengirim
100 mobil tanpa sopir tersebut hingga akhir tahun 2016. Sekarang baru beberapa
unit saja yang siap panggil.
Dalam hal teknologi
mobil tanpa sopir, Uber mengambil pendekatan yang berbeda dari perusahaan lain
seperti Google dan Tesla. Seperti layanan transportasinya yang tak memiliki
armada, Uber tidak berniat memproduksi mobilnya sendiri, tapi menyerahkan
peranan itu ke pabrikan otomotif rekanan.Kembali ke Pittsburgh, sebagai bagian
dari uji coba, pelanggan bakal bisa memanggil dan memakai mobil tanpa sopir
secara cuma-cuma, bebas dari tarif standar sebesar 1,05 dollar AS (sekitar Rp
14.000) per mil (1,6 km).
Nantinya, ongkos bepergian dengan mobil tanpa sopir diprediksi bakal turun hingga menjadi lebih murah dibandingkan memakai mobil pribadi.Dari segi keamanan intel akuisisi penjaga keamanan dalam mobil Sebagai bagian dari upayanya mendalami ranah Internet of Things (IoT), Intel mengumumkan telah mengakuisisi Yogitech, sebuah perusahaan perancang semikonduktor asal Italia.
Yogitech dikenal
memiliki spesialisasi berupa menambahkan keamanan “functional safety” di dalam
chip yang dipakai di dalam robot, mobil tanpa sopir, dan aneka perangkat
otomatis lain.Vice President Platform Engineering and Development grup IoT
Intel, Ken Caviasca, menerangkan bahwa pihaknya bakal menerapkan teknologi
Yogitech di bidang-bidang, seperti pemgembangan chip untuk sistem asistensi
pengemudi, robotika, dan mesin otomatis.
Functional safety
adalah bagian dari sistem keamanan secara keseluruhan dari sebuah perangkat
yang memastikan perangkat yang bersangkutan bisa melakukan tugasnya, dengan
mengantisipasi kesalahan operator, kegagalan hardware, atau faktor perubahan
lingkungan.
Tujuan menerapakan
funcitional safety adalah menghindari cidera fisik pada pengguna, baik secara
langsung ataupun tak langsung. Di
ranah mobil tanpa sopir, misalnya, teknologi Yogitech bisa digunakan untuk
mengurangi error terkait soal pengereman dan
identifikasi obyek. Kesalahan atau kegagalan sistem pada mobil tanpa sopir bisa
berakibat fatal.
Besarnya nilai akuisisi Yogitech tidak
disebutkan. Sebelumnya, perusahaan kecil ini pernah bekerja sama dengan para
pabrikan chip lain, termasuk Texas Instruments, ARM, Toshiba, Fujitsu, dan ST
Microelectronics.
Secara terpisah, unit
Wind River Intel yang berfokus ke aspek software dari IoT turut melakukan pembelian
terkait fungsi mobil otomats. Akusisi
diakukan atas Arynga, perusahaan pembaut software yang memungkinkan mobil menerima update secara
over-the-air (OTA).Update OTA diperlukan untuk menyalurkan pembaruan secara
segera, seperti dalam kasus ditemukannya celah keamanan.
Sumber : Di sini



0 komentar:
Posting Komentar